Langsung ke konten utama

Membahagiakan Sebelum Kehilangan

Proses menjalani hidup yang diketahui dengan jelas (entah sadar atau tidak) dengan Ending "Kematian". Meski waktu, tempat, kejadian, tidak diketahui namun kepastianya dapat dibuktikan.

Tidak ada manusia sejauh ini yang hidup didunia ini dapat melawan kematian, semua manusia yang hidup artinya akan mati. Manusia tidak terpisahkan dari kematian, bagaimanapun kepentingan dan jabatan yang diembanya saat ini.

Tidak sedikit yang menyarankan sebaliknya, memilih untuk bersikap menyiapkan bekal menghadapi hari setelah kematian yang biasa disebut dengan Yaumil Akhir.

Pandangan terhadap kematian tidak hanya bagi diri sendiri, sesekali terlintas dibenak bagaimana jika yang meninggal itu adalah orang yang dianggap berharga didunia ini; Keluarga misalnya. Hal itu dapat dipastikan sulit untuk dibayangkan. Dapat dipastikan setiap keluarga menemui kematian, namun sulit membayangkan atau mungkin lebih cenderung menghindari kesiapan kehilangan orang yang berharga? 

Sulit untuk dibayangkan ketika benar terjadi diantara keluarga yang kita sayang, meninggal dunia disaat kita butuh senyumnya tatkala dipuncak kesuksesan. Diantara banyak orang dapat melewati dengan sikap penuh kesiapan, sebagian yang lain butuh waktu lama untuk dapat bangkit dan tersenyum melewati kehidupan.

Tidak ada yang dapat dilakukan untuk mencegah kematian, bagi manusia yang ingin membahagiakan orang tua melalui kesuksesan tentu melakukanya dengan cepat -seakan berkejaran dengan datangnya malaikat kematian- untuk meraih kesuksesan.

Sedikit yang dapat dimengerti arti dari kehilangan karena kematian, sebab sesuatu yang berharga akan dianggap sangat berharga ketika sesuatu itu menghilang. Sesuatu yang sangat sukar diraih adalah sesuatu yang begitu berharga, mengukir kenangan setelah ketiadaan, misalnya.
"Jalanilah hidup ini dengan sebaik-baiknya, tidak perlu tergesa-gesa meraih sukses untuk melihat orang yang kau sayang tersenyum bahagia, proses yang kau jalani sekarang dengan kesungguhan adalah bahagianya" 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rewrite = Rekonstruksi Pikiran

Hujan turun dekat rumah, merenung dengan pasrah, mengapa cara diri berpikir tidak berubah dan terarah. Saya coba yakinkan diri bahwa itu adalah ilusi, godaan setan untuk mengecilkan diri. Saya rasa-rasa lagi, itu bukan sekedar was-was maupun ilusi sesaat ketika melihat diri tidak begitu kritis terhadap segala situasi. Ketika terjadinya agresi AS+Israel Vs Iran, diri ini memilih diam, tidak memihak salah satu atau mencenderungkan diri ke salah satu. Ketika terjadinya bencana yang melanda wilayah Sumatera, diri ini juga tidak memberikan kritik ataupun analisis tajam terhadap kejadian tersebut. Sehingga, diri ini seperti apatis terhadap kejadian diluar kemampuan untuk membantu dan menanganinya. Termasuk melakukan analitis terstruktur terhadap beragam problematika yang melanda dalam maupun luar negeri.  Menulis merupakan cara bagi saya untuk memulai kembali dan menajamkan lagi cara berpikir dan apa yang kita pikir. Melalui apa yang kita pikirkan, kita membatasi bahasan dan tema-tema ya...

Kematian adalah Kehilangan yang Menyadarkan

 Kemarin malam, saat menunggu iqamah sholat isya, imam yang biasa pimpin sholat tiba-tiba maju ke shaf depan. Saya kira imam tersebut akan memberlangsungkan iqamah, namun justru mengumumkan sesuatu. Pengumuman bahwasanya tetangga kami, RW, meninggal dunia secara mendadak. Saya pun tertegun mendengar pengumuman tersebut, mendengar bahwa tetangga kami yang terlihat sehat, kemudian tiba-tiba sakit dan terjatuh. Sempat dibawa ke Rumah Sakit, Qadarullah, meninggal dunia. Saya pun menghela nafas, kenapa begitu cepatnya tetangga kami dipanggil Allah. Hal ini pun dirasakan oleh imam yang memimpin sholat, terisak tangis yang terdengar dalam lantunan ayat yg begitu berat terucap.  Hari ini, tetangga sekaligus keluarga kami di kuburkan. Karena tuntutan pekerjaan, saya hanya sempat takziah sebentar tanpa bisa ikut melakukan pemulasaraan jenazah maupun ikut mensholatkan. Namun, rasanya begitu berat, tetangga kami, yang biasa ikut sholat berjamaah, sekarang sudah tiada. Mungkin inilah yang ...

Memahami Bisnis Dengan Baik #2

 Kemarin malam saya mulai menulis tentang  Memahami Bisnis Dengan Baik  yang berujung pada kesimpulan bahwa "Bisnis tidak pernah lepas dari manusia serta cara pandangnya terhadap barang/jasa". Malam ini pernyataan saya tersebut terbukti dari seorang pebisnis yang bercerita tentang pengalaman bangun jatuhnya mengawali bisnis. Cerita pebisnis tersebut dapat Anda simak pada  Link ini  yang punya Kampoeng Timoer. Pebisnis tersebut yang juga dikenal dengan produknya "Crab" suatu cemilan yang berbahan baku kepiting. Awal Filsa berbisnis yaitu membuka warung "Ayam Kalasan". Warung khas Jawa yang menjual banyak makanan manis. Warung tersebut terletak dipinggir jalan raya, namun warung tersebut tidak bertahan lama hingga akhirnya tutup.  Singkat cerita, Filsa punya modal Rp. 100.000 hasil dari menggadai cincin pernikahan untuk membelikan kebutuhan-kebutuhan mendesak, seperti beras, susu, dan lainya. Modal tersebut dipikir dengan keras oleh Filsa agar dapat bertahan...