Langsung ke konten utama

Memahami Bisnis Dengan Baik #2

 Kemarin malam saya mulai menulis tentang Memahami Bisnis Dengan Baik yang berujung pada kesimpulan bahwa "Bisnis tidak pernah lepas dari manusia serta cara pandangnya terhadap barang/jasa". Malam ini pernyataan saya tersebut terbukti dari seorang pebisnis yang bercerita tentang pengalaman bangun jatuhnya mengawali bisnis. Cerita pebisnis tersebut dapat Anda simak pada Link ini yang punya Kampoeng Timoer. Pebisnis tersebut yang juga dikenal dengan produknya "Crab" suatu cemilan yang berbahan baku kepiting.

Awal Filsa berbisnis yaitu membuka warung "Ayam Kalasan". Warung khas Jawa yang menjual banyak makanan manis. Warung tersebut terletak dipinggir jalan raya, namun warung tersebut tidak bertahan lama hingga akhirnya tutup. 

Singkat cerita, Filsa punya modal Rp. 100.000 hasil dari menggadai cincin pernikahan untuk membelikan kebutuhan-kebutuhan mendesak, seperti beras, susu, dan lainya. Modal tersebut dipikir dengan keras oleh Filsa agar dapat bertahan untuk kedepannya. Filsa keingat dengan tetangga yang dulunya jualan Piyek kacang, namun sekarang tutup. Sepulang kerumah, Filsa segera ke tempat tetangga yang dulu jualan Piyek. Ketika dirumah tetangganya tersebut, Filsa pun bertanya seputar penyebab jualan tersebut tidak laku. Setelah itu, Filsa mengajukan permohonan untuk diajarkan membuat piye dengan modal Rp. 100.000. Tetangga tersebut bersedia mengajarkan Filsa membuat Piye dengan modal tersebut asal pembuatannya menggunakan kompor yang dimiliki Filsa. 

Setelah mampu membuat Piyek kacang untuk beberapa waktu, kemudian pada suatu waktu dimedia sosial BBM seorang teman Filsa pesan 10 Pcs Piyek. Filsa pun mengantarkan pesanan tersebut ke orang yang disebut "Koh". Ketika sampai tempat Koh, Filsa ditanya berapa harga 10 Pcs Piyek tersebut ? Dijawablah harganya Rp. 20.000 dengan satu Pcs itu seharga Rp. 2.000. Koh pun heran dengan harga tersebut bahwa harga tersebut "seakan" terlalu murah dan dengan 10 Pcs itu baru habis 3-4 hari. Lalu Koh pun menyampaikan, "Kalau Kamu jual 2 ribuan Kapan kamu kaya nya ?". Pertanyaan dari Koh tersebut dijelaskan melalui kegiatan produksi Filsa mengolah Piyek yang memakan waktu berjam-jam bahkan pernah hingga 25 jam. Anggaplah sehari keuntungan Rp. 400.000 dengan memakan waktu 24 Jam, sebulan dapat Rp. 12.000.000. Namun, sebulan kemudian harus membayar biaya pengobatan Rumah Sakit disebabkan tubuh Over Working yang biaya pengobatan dapat saja lebih mahal dari omset perbulan tersebut.

Akhirnya, Filsa pun memikirkan dengan cermat bahwa hal tersebut masuk akal. Ia pun minta nasehat dari Koh akan produknya. Koh pun memberikan saran agar produk tersebut dikasih Diferensiasi Produk , terkait dengan pasar dan kemasan diserahkan ke Koh. Saran dari Koh dipikirkan Filsa lalu ngeklik dengan konteks domisili yaitu Balikpapan. Balikpapan terkenal dengan olahan pangan kepiting yang membuat bahan dasar kepiting tergolong murah. Filsa pun membuat diferensiasi produk Piyek yang awalnya berbahan dasar kacang menjadi berbahan dasar kepiting. Otomatis, harga yang ditawarkan pun ikutan naik karena bahan dasar kepiting yang telah diolah itu melonjak tinggi.

Cerita utuh terkait dengan awal bisnis Filsa tersebut dapat ditonton pada link yang saya bagikan diawal-awal tulisan ini. Cerita singkat yang telah diuraikan saya coba mencari titik temu dengan pernyataan saya diawal tulisan. 

Filsa yang merupakan seorang manusia lelaki juga seorang suami sekaligus ayah telah bangun jatuh didalam dunia bisnis. Sebelum menikah, ia telah mengawali bisnis "Ayam Kalasan" di Balikpapan namun berujung tutup disebabkan target konsumen yang kurang tepat. Awal bisnis tersebut menyimpan pandangan umum bahwa Ayam Kalasan dapat dinikmati oleh banyak kalasan karena rasa manis masakan dan sebagainya. Namun, pandangan tersebut tidak tepat untuk digeneralisir, buktinya bisnis Ayam Kalasan tersebut kurang cocok di bumi Balikpapan, lebih cocok dengan kultur Jawa Tengah yang cenderung suka masakan manis. Cara pandang Filsa untuk membuka bisnis tersebut masih sempit dan mengedepankan Emosional diri sendiri, belum mencapai tataran emosional orang lain/ orang banyak.

Pada cerita tersebut disebutkan bahwa Filsa mengajukan permohonan untuk diajarkan membuat Piyek, disamping itu juga mencari tau sebab musabab penjualan Piye tetangganya tersebut tutup. Tindakan tersebut merupakan indikasi mental pebisnis terbangun melalui kecenderungan melakukan identifikasi kegiatan produksi barang dan kegiatan jualbeli untuk mendapatkan laba. Tindakan tersebut menunjukkan kesiapan untuk belajar menjadi pebisnis yang lebih baik serta menghindarkan diri dari lobang kerugian yang dialami pebisnis sebelumnya. Filsa pun membuktikan hasil identifikasi penjualan Piye sebelumnya, benar saja lobang tersebut ada dan nyata namun dapat disiasati oleh Filsa.

Pada bagian Filsa ke Koh atau Kokoh, secara tidak langsung menjadikan Koh tersebut sebagai Mentor bisnis yang dilakukan Filsa. Koh dalam cerita tersebut menunjukkan pandangan yang luas akan suatu bisnis serta memiliki kecenderungan cara pandang Kausalitas, yaitu cara pandang sebab-akibat. Sebab Filsa melakukan produksi berjam-jam dapat mengakibatkan tubuh sakit/ rusak sehingga menyebabkan butuhnya perawatan tubuh (Rumah Sakit) yang mengakibatkan keluarnya duit untuk biaya Rumah Sakit. Cara pandang Kausalitas itulah yang diajarkan secara tidak langsung kepada Filsa ketika mengawali bisnis Piye Kepiting.

Pertemuan awal Filsa dan Koh tentang awal bisnis Piye adalah memperbaiki dan Revenue  produknya. Tantangan Koh terhadap Filsa agar Diferensiasi dan Revenue produk dapat dilewati dengan hadirnya "Piyek Kepiting". Setelah melakukan tantangan Koh atau disebut juga tahapan pertama, kemudian tahapan keduanya yaitu Pengemasan dan Pemasaran Produk. Tahapan kedua tersebut dilakukan oleh Filsa atas saran-saran dari Koh -yang saya ingatkan lagi bahwa Koh posisinya sebagai Mentor dalam cerita tersebut.

Cerita tersebut mengerucutkan kesimpulan bahwa Cara pandang manusia terhadap bisnis dipengaruhi oleh lingkungan asal yang sebagian besarnya bersumber dari Indera. Indera tidak cukup dijadikan modal dasar dalam mengawali bisnis karena cenderung mengedepankan emosional diri sendiri. Menghindari hal tersebut, diperlukan cara pandang baru pebisnis terhadap bisnisnya. Cara pandang baru tersebut dapat dibentuk melalui dialog. Namun, bagi pebisnis Newbie sebaiknya mengedepankan Cara Pandang pebisnis yang lebih dulu sukses untuk menilai produk dan kegiatan produksi. Sekaligus, jadikan pebisnis yang lebih dulu sukses agar berkenan menjadi mentor dalam mengawali bisnis. Sehingga kegiatan produksi, produk, hingga pemasaran dapat dilakukan tanpa banyak tercebur dalam lobang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rewrite = Rekonstruksi Pikiran

Hujan turun dekat rumah, merenung dengan pasrah, mengapa cara diri berpikir tidak berubah dan terarah. Saya coba yakinkan diri bahwa itu adalah ilusi, godaan setan untuk mengecilkan diri. Saya rasa-rasa lagi, itu bukan sekedar was-was maupun ilusi sesaat ketika melihat diri tidak begitu kritis terhadap segala situasi. Ketika terjadinya agresi AS+Israel Vs Iran, diri ini memilih diam, tidak memihak salah satu atau mencenderungkan diri ke salah satu. Ketika terjadinya bencana yang melanda wilayah Sumatera, diri ini juga tidak memberikan kritik ataupun analisis tajam terhadap kejadian tersebut. Sehingga, diri ini seperti apatis terhadap kejadian diluar kemampuan untuk membantu dan menanganinya. Termasuk melakukan analitis terstruktur terhadap beragam problematika yang melanda dalam maupun luar negeri.  Menulis merupakan cara bagi saya untuk memulai kembali dan menajamkan lagi cara berpikir dan apa yang kita pikir. Melalui apa yang kita pikirkan, kita membatasi bahasan dan tema-tema ya...

Kematian adalah Kehilangan yang Menyadarkan

 Kemarin malam, saat menunggu iqamah sholat isya, imam yang biasa pimpin sholat tiba-tiba maju ke shaf depan. Saya kira imam tersebut akan memberlangsungkan iqamah, namun justru mengumumkan sesuatu. Pengumuman bahwasanya tetangga kami, RW, meninggal dunia secara mendadak. Saya pun tertegun mendengar pengumuman tersebut, mendengar bahwa tetangga kami yang terlihat sehat, kemudian tiba-tiba sakit dan terjatuh. Sempat dibawa ke Rumah Sakit, Qadarullah, meninggal dunia. Saya pun menghela nafas, kenapa begitu cepatnya tetangga kami dipanggil Allah. Hal ini pun dirasakan oleh imam yang memimpin sholat, terisak tangis yang terdengar dalam lantunan ayat yg begitu berat terucap.  Hari ini, tetangga sekaligus keluarga kami di kuburkan. Karena tuntutan pekerjaan, saya hanya sempat takziah sebentar tanpa bisa ikut melakukan pemulasaraan jenazah maupun ikut mensholatkan. Namun, rasanya begitu berat, tetangga kami, yang biasa ikut sholat berjamaah, sekarang sudah tiada. Mungkin inilah yang ...