Langsung ke konten utama

Memahami Bisnis Dengan Baik

Sampai pada titik melakukan pergeseran cara hidup dan cara pandang untuk mewujudkan ibadah terpanjang dalam hidup. Sejauh ini bergelut dengan pendidikan beserta lika likunya, walau disana sini masih perlu ada pembenahan kapasitas diri. Overall, waktu bertahun-tahun dihabiskan dalam dunia pendidikan yang tegas bukan tujuan untuk mengumpulkan harta melainkan pengabdian semata.

Setelah menyelesaikan sidang tesis Magister Pendidikan disuatu instansi Negeri Islam, dihimpit wabah covid-19 yang belum tau kabar kepergiannya mendorong dengan kuat untuk dapat survive secara finansial. Survive secara finansial dalam artian dapat memenuhi kebutuhan diri hingga satu tahun kedepan, ditambah desakan untuk mandiri secara finansial sebagai role model calon suami yang baik menambah girah untuk menggeser bidang ke bisnis atau wirausaha?

Selepas sidang, hampir menganggap waktunya untuk fokus ke bidang lain apakah bisnis atau wirausaha ? Apakah 2 konsonan kata tersebut sama atau berlainan, atau malah bertentangan ? Bagi pemula seperti diri ini, melangkah keranah bisnis atau wirausaha dulu ? Lalu, langkah awal seperti apa yang harus diambil dan dijalani ?

Menurut wikipedia bisnis merupakan suatu kegiatan jualbeli barang atau jasa dengan tujuan mendapatkan laba. Bisnis diambil dari kata Business diserap dari Busy (Sibuk). Apabila dirangkai dalam suatu konsunan kalimat menjadi suatu kegiatan seseorang maupun kelompok orang yang menyibukkan dirinya dalam kegiatan jualbeli barang atau jasa demi mendapat laba. Kegiatan tersebut berfokus satu tujuan "laba" terlepas kegiatan tersebut halal atau tidak, sesuai aturan atau pelanggaran, tertib atau acak. Capaian berupa laba belum menunjukkan sisi nilai didalamnya, oleh karena itu perlu dilandasi suatu nilai agar laba yang didapatkan sesuai dengan nilai yang diyakini dan diteguhkan. Nilai tersebut dapat berupa ajaran Agama atau norma yang berlaku dalam suatu masyarakat, tergantung konteks pebisnis yang melakukannya.

Lalu, bagaimana dengan wirausaha ? Melangsir situs Jurnal Entrepreneur disebutkan bahwa Wirausaha merupakan suatu kegiatan usaha atau bisnis mandiri yang setiap sumber daya dan kegiatannya dibebankan kepada pelaku usaha atau wirausahawan terutama dalam hal membuat produk baru, menentukan bagaimana cara produksi baru, maupun menyusun suatu operasi bisnis dan pemasaran produk serta mengatur permodalan usaha. Wirausaha merujuk kepada kemandirian diri untuk melakukan kegiatan bisnis.

Secara umum terlihat perbedaan antara wirausaha dengan bisnis ditinjau dari ruang lingkup. Apabila wirausaha merupakan suatu kemandirian bisnis atau kegiatan usaha, berarti wirausaha merupakan bagian dari Bisnis. Wirausaha yang merupakan bagian bisnis menunjukkan kekhasan untuk mengerahkan tenaga, upaya, dan pikiran untuk mampu menjualbelikan produk yang dimiliki untuk mencapai laba. Bisnis lebih luas karena penyebutan yang melekat pada dirinya adalah kegiatan jualbeli jasa atau barang, baik itu miliki pribadi maupun orang lain.

Pada tataran definisi tersebut merujuk pada akurasi konversi bidang pendidikan ke bidang bisnis. Berhubung definisi dapat dimengerti dengan baik, selanjutnya melakukan upaya awal untuk menjajaki bidang bisnis. Perlu dipahami, penulis yang memiliki basic pendidikan di organisasi Pelajar Islam Indonesia tidak membiarkan diri memulai dari nol. Cara pandang tersebut mengakar kuat bagi instruktur yang ditelurkan oleh organisasi tersebut. Saya yang semenjak tahun 2015 telah menjadi seorang Instruktur PII harus mengingat prinsip dasar tersebut. Saya tidak perlu mulai dari nol, akumulasi pengalaman selama ini dilakukan konversi juga ke bidang bisnis.

Tindakan konversi tersebut memaksa diri ini untuk mengawali penjajakan bidang bisnis dengan memahami ulang "Apa itu manusia?" untuk menemukan jawaban-jawaban yang berfungsi untuk mencapai satu hal dibidang bisnis, yaitu "Laba". Bisnis tidak pernah lepas dari manusia serta cara pandangnya terhadap barang atau jasa.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rewrite = Rekonstruksi Pikiran

Hujan turun dekat rumah, merenung dengan pasrah, mengapa cara diri berpikir tidak berubah dan terarah. Saya coba yakinkan diri bahwa itu adalah ilusi, godaan setan untuk mengecilkan diri. Saya rasa-rasa lagi, itu bukan sekedar was-was maupun ilusi sesaat ketika melihat diri tidak begitu kritis terhadap segala situasi. Ketika terjadinya agresi AS+Israel Vs Iran, diri ini memilih diam, tidak memihak salah satu atau mencenderungkan diri ke salah satu. Ketika terjadinya bencana yang melanda wilayah Sumatera, diri ini juga tidak memberikan kritik ataupun analisis tajam terhadap kejadian tersebut. Sehingga, diri ini seperti apatis terhadap kejadian diluar kemampuan untuk membantu dan menanganinya. Termasuk melakukan analitis terstruktur terhadap beragam problematika yang melanda dalam maupun luar negeri.  Menulis merupakan cara bagi saya untuk memulai kembali dan menajamkan lagi cara berpikir dan apa yang kita pikir. Melalui apa yang kita pikirkan, kita membatasi bahasan dan tema-tema ya...

Kematian adalah Kehilangan yang Menyadarkan

 Kemarin malam, saat menunggu iqamah sholat isya, imam yang biasa pimpin sholat tiba-tiba maju ke shaf depan. Saya kira imam tersebut akan memberlangsungkan iqamah, namun justru mengumumkan sesuatu. Pengumuman bahwasanya tetangga kami, RW, meninggal dunia secara mendadak. Saya pun tertegun mendengar pengumuman tersebut, mendengar bahwa tetangga kami yang terlihat sehat, kemudian tiba-tiba sakit dan terjatuh. Sempat dibawa ke Rumah Sakit, Qadarullah, meninggal dunia. Saya pun menghela nafas, kenapa begitu cepatnya tetangga kami dipanggil Allah. Hal ini pun dirasakan oleh imam yang memimpin sholat, terisak tangis yang terdengar dalam lantunan ayat yg begitu berat terucap.  Hari ini, tetangga sekaligus keluarga kami di kuburkan. Karena tuntutan pekerjaan, saya hanya sempat takziah sebentar tanpa bisa ikut melakukan pemulasaraan jenazah maupun ikut mensholatkan. Namun, rasanya begitu berat, tetangga kami, yang biasa ikut sholat berjamaah, sekarang sudah tiada. Mungkin inilah yang ...

Memahami Bisnis Dengan Baik #2

 Kemarin malam saya mulai menulis tentang  Memahami Bisnis Dengan Baik  yang berujung pada kesimpulan bahwa "Bisnis tidak pernah lepas dari manusia serta cara pandangnya terhadap barang/jasa". Malam ini pernyataan saya tersebut terbukti dari seorang pebisnis yang bercerita tentang pengalaman bangun jatuhnya mengawali bisnis. Cerita pebisnis tersebut dapat Anda simak pada  Link ini  yang punya Kampoeng Timoer. Pebisnis tersebut yang juga dikenal dengan produknya "Crab" suatu cemilan yang berbahan baku kepiting. Awal Filsa berbisnis yaitu membuka warung "Ayam Kalasan". Warung khas Jawa yang menjual banyak makanan manis. Warung tersebut terletak dipinggir jalan raya, namun warung tersebut tidak bertahan lama hingga akhirnya tutup.  Singkat cerita, Filsa punya modal Rp. 100.000 hasil dari menggadai cincin pernikahan untuk membelikan kebutuhan-kebutuhan mendesak, seperti beras, susu, dan lainya. Modal tersebut dipikir dengan keras oleh Filsa agar dapat bertahan...