Hujan turun dekat rumah, merenung dengan pasrah, mengapa cara diri berpikir tidak berubah dan terarah. Saya coba yakinkan diri bahwa itu adalah ilusi, godaan setan untuk mengecilkan diri. Saya rasa-rasa lagi, itu bukan sekedar was-was maupun ilusi sesaat ketika melihat diri tidak begitu kritis terhadap segala situasi. Ketika terjadinya agresi AS+Israel Vs Iran, diri ini memilih diam, tidak memihak salah satu atau mencenderungkan diri ke salah satu. Ketika terjadinya bencana yang melanda wilayah Sumatera, diri ini juga tidak memberikan kritik ataupun analisis tajam terhadap kejadian tersebut. Sehingga, diri ini seperti apatis terhadap kejadian diluar kemampuan untuk membantu dan menanganinya. Termasuk melakukan analitis terstruktur terhadap beragam problematika yang melanda dalam maupun luar negeri.
Menulis merupakan cara bagi saya untuk memulai kembali dan menajamkan lagi cara berpikir dan apa yang kita pikir. Melalui apa yang kita pikirkan, kita membatasi bahasan dan tema-tema yang masuk dalam kemampuan. Adapun cara berpikir merupakan cara membedah tema-tema tersebut dengan satu atau lebih pendekatan. Ketika terjadinya perang yang saya sebutkan sebelumnya, saya bisa saja menggunakan sudut pandang integrate education untuk membedah bagaimana cara memberlangsungkan pendidikan ditengah perang yang berkecamuk. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan cara berpikir dan apa yang kita pikir bisa dilakukan sesuai dengan bidang keahlian. Rasanya sudah cukup dulu untuk pemantik rewrite ini dirangkum sederhana dan 'sengaja' terpotong.

Komentar
Posting Komentar