Kemarin malam, saat menunggu iqamah sholat isya, imam yang biasa pimpin sholat tiba-tiba maju ke shaf depan. Saya kira imam tersebut akan memberlangsungkan iqamah, namun justru mengumumkan sesuatu. Pengumuman bahwasanya tetangga kami, RW, meninggal dunia secara mendadak. Saya pun tertegun mendengar pengumuman tersebut, mendengar bahwa tetangga kami yang terlihat sehat, kemudian tiba-tiba sakit dan terjatuh. Sempat dibawa ke Rumah Sakit, Qadarullah, meninggal dunia. Saya pun menghela nafas, kenapa begitu cepatnya tetangga kami dipanggil Allah. Hal ini pun dirasakan oleh imam yang memimpin sholat, terisak tangis yang terdengar dalam lantunan ayat yg begitu berat terucap.
Hari ini, tetangga sekaligus keluarga kami di kuburkan. Karena tuntutan pekerjaan, saya hanya sempat takziah sebentar tanpa bisa ikut melakukan pemulasaraan jenazah maupun ikut mensholatkan. Namun, rasanya begitu berat, tetangga kami, yang biasa ikut sholat berjamaah, sekarang sudah tiada. Mungkin inilah yang dimaksud dengan 'kehilangan'. Rasa Kehilangan inikah kemudian memunculkan kemurungan, kesedihan, hingga trauma.
Kesedihan inilah yang menurut Goleman sebagai emosi yang ada dari suasana hati yang sedih, suram, pedih, muram, dan sebagainya. Bahanya, rasa sedih yang cukup mendalam bisa membuat kita merasa tak berarti, timbul rasa keinginan untuk menangis dan menyendiri, kekurangan energi, hingga motivasi hidup yang rendah. Kondisi ini berbeda-beda dialami oleh setiap orang, ada yang mengalaninya sebentar, ada yang mengalaminya dalam waktu yang cukup lama.
Kemudian, muncul pertanyaan, mengapa tulisan kesedihan ini dimuat dan dipublish? Kita rujuk kepada pendapat Hidayat, bahwa menyatakan kehilangan merupakan suatu keadaan aktual ataupun potensial yang dapat dialami oleh individu pada saat berpisah dengan sesuati yang sebelumnya ada, baik sebagaian ataupun keseluruhan sehingga timbulnya perasaan kehilangan. Hal ini disebabian rasa kehilangan dan keterpurukan yang dialami.
Jika rasa kehilangan sudah dijelaskan sebelumnya, maka keterpurukan merupakan sesuatu ratapan seseorang atas kondisi yang berubah begitu cepatnya. Sehingga tubuh, pikiran, mental, hingga jiwanya belum mampu untuk menyesuaikan dengan kejadian yang dialami. Apalagi jika pikirannya adalah keberlangsungan masa depan yang seakan sirna atau berkabut. Sedangkan kondisi saya sendiri, kehilangan dan terpuruk karena tetangga yang, dinilai, baik hatinya kini telah tiada. Orang yang biasa menguruskan urusan orang lain, kini kami harus urus sendiri. Seakan dunia tiba-tiba ditimpakan kepada kami, yg merasa diri ini belum siap untuk melanjutkan generasi.
Rasa kehilangan dan keterpurukan ini saya yakin akan hilang atau berkurang seiring berjalannya waktu. Sebab ada yg bilang 'waktu kan menyembuhkan'. Padahal memori otak kita lah yang dipaksa bekerja habis-habisan sehingga ruang pikiran dan perasaan kehilangan tersingkir dengan sendirinya.
Paling tidak, ini adalah alaram bagi kami bahwa waktu akan memaksa generasi untuk melanjutkan kepemimpinan, baik siap atau tidak dengan segala konsekuensi yang ada. Sabuk harus segera dikencangkan, karena fitnah dunia tiadalah habisnya untuk menyeret kita jauh dari Nya.
Komentar
Posting Komentar