Langsung ke konten utama

It's Rain, but no more (Rain)Bow

 Hujan akhir-akhir seperti memutus gersang yang berkepanjangan. Terik matahari cukup mengusik aktivitas diluar rumah. Memang ini adalah bagian dari takdir Allah. Namun, mengingat kembali bahwa situasi ini merupakan akibat dari olah tangan manusia. Padahal, sepanas apapun cuaca, selagi ada tempat berteduh, maka panas akan menjadi sejuk. Sebagaimana kita berteduh di bawah pohon, kesejukan yang dirasa sangat luar biasa, meski terik berteriak lantangnya. 


Kini, hujan turun silih berganti hari. Awan-awan tebal berarak kesana kemari. Namun, ada satu hal yang sering kupastikan namun tiada ia disamping hujan, yakni 🌈Pelangi (Rainbow).Pelangi yang biasa hadir mengiri titisan-titisan yang mengakhiri hujan, kini sudah jarang terlihat oleh mata yang sekarang berkacamata. Entah hujan itu pagi, entah hujan itu siang, entah hujan itu sore maupun malam. Pelangi kini tiada terlihat lagi, baik di tengah kota ku cari maupun di tepian sawah ku nanti. Padahal, sewaktu kecil, 15 tahun yg lalu. Hujan ringan pun menghadirkan pelangi yg begitu indahnya. Sampai-sampai sering terpesona dibuat olehnya. Sekarang, fenomena alam tersebut semakin asing, lebih aneh kita menormalisasi ketiadaan tersebut. 


Mungkin inilah tanda bahwa, kehancuran dunia ini, tiadalah banyak orang sadari. Sebab, kehidupan dunia sangat menyibukkan diri. Hingga, tak sempat lagi memperhatikan ada perubahan signifikan yg terjadi di bumi pertiwi. Namun, selagi pekerjaan aman sentosa, apalah arti kehancuran dunia? Meski, ada saatnya kita menyadari bahwa dunia kini tlah berganti. Mungkin manusia lah yg nanti kan terusik oleh dunia yg berubah, akibat olah tangan manusia itu sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rewrite = Rekonstruksi Pikiran

Hujan turun dekat rumah, merenung dengan pasrah, mengapa cara diri berpikir tidak berubah dan terarah. Saya coba yakinkan diri bahwa itu adalah ilusi, godaan setan untuk mengecilkan diri. Saya rasa-rasa lagi, itu bukan sekedar was-was maupun ilusi sesaat ketika melihat diri tidak begitu kritis terhadap segala situasi. Ketika terjadinya agresi AS+Israel Vs Iran, diri ini memilih diam, tidak memihak salah satu atau mencenderungkan diri ke salah satu. Ketika terjadinya bencana yang melanda wilayah Sumatera, diri ini juga tidak memberikan kritik ataupun analisis tajam terhadap kejadian tersebut. Sehingga, diri ini seperti apatis terhadap kejadian diluar kemampuan untuk membantu dan menanganinya. Termasuk melakukan analitis terstruktur terhadap beragam problematika yang melanda dalam maupun luar negeri.  Menulis merupakan cara bagi saya untuk memulai kembali dan menajamkan lagi cara berpikir dan apa yang kita pikir. Melalui apa yang kita pikirkan, kita membatasi bahasan dan tema-tema ya...

Kematian adalah Kehilangan yang Menyadarkan

 Kemarin malam, saat menunggu iqamah sholat isya, imam yang biasa pimpin sholat tiba-tiba maju ke shaf depan. Saya kira imam tersebut akan memberlangsungkan iqamah, namun justru mengumumkan sesuatu. Pengumuman bahwasanya tetangga kami, RW, meninggal dunia secara mendadak. Saya pun tertegun mendengar pengumuman tersebut, mendengar bahwa tetangga kami yang terlihat sehat, kemudian tiba-tiba sakit dan terjatuh. Sempat dibawa ke Rumah Sakit, Qadarullah, meninggal dunia. Saya pun menghela nafas, kenapa begitu cepatnya tetangga kami dipanggil Allah. Hal ini pun dirasakan oleh imam yang memimpin sholat, terisak tangis yang terdengar dalam lantunan ayat yg begitu berat terucap.  Hari ini, tetangga sekaligus keluarga kami di kuburkan. Karena tuntutan pekerjaan, saya hanya sempat takziah sebentar tanpa bisa ikut melakukan pemulasaraan jenazah maupun ikut mensholatkan. Namun, rasanya begitu berat, tetangga kami, yang biasa ikut sholat berjamaah, sekarang sudah tiada. Mungkin inilah yang ...

Memahami Bisnis Dengan Baik #2

 Kemarin malam saya mulai menulis tentang  Memahami Bisnis Dengan Baik  yang berujung pada kesimpulan bahwa "Bisnis tidak pernah lepas dari manusia serta cara pandangnya terhadap barang/jasa". Malam ini pernyataan saya tersebut terbukti dari seorang pebisnis yang bercerita tentang pengalaman bangun jatuhnya mengawali bisnis. Cerita pebisnis tersebut dapat Anda simak pada  Link ini  yang punya Kampoeng Timoer. Pebisnis tersebut yang juga dikenal dengan produknya "Crab" suatu cemilan yang berbahan baku kepiting. Awal Filsa berbisnis yaitu membuka warung "Ayam Kalasan". Warung khas Jawa yang menjual banyak makanan manis. Warung tersebut terletak dipinggir jalan raya, namun warung tersebut tidak bertahan lama hingga akhirnya tutup.  Singkat cerita, Filsa punya modal Rp. 100.000 hasil dari menggadai cincin pernikahan untuk membelikan kebutuhan-kebutuhan mendesak, seperti beras, susu, dan lainya. Modal tersebut dipikir dengan keras oleh Filsa agar dapat bertahan...