Hujan akhir-akhir seperti memutus gersang yang berkepanjangan. Terik matahari cukup mengusik aktivitas diluar rumah. Memang ini adalah bagian dari takdir Allah. Namun, mengingat kembali bahwa situasi ini merupakan akibat dari olah tangan manusia. Padahal, sepanas apapun cuaca, selagi ada tempat berteduh, maka panas akan menjadi sejuk. Sebagaimana kita berteduh di bawah pohon, kesejukan yang dirasa sangat luar biasa, meski terik berteriak lantangnya.
Kini, hujan turun silih berganti hari. Awan-awan tebal berarak kesana kemari. Namun, ada satu hal yang sering kupastikan namun tiada ia disamping hujan, yakni 🌈Pelangi (Rainbow).Pelangi yang biasa hadir mengiri titisan-titisan yang mengakhiri hujan, kini sudah jarang terlihat oleh mata yang sekarang berkacamata. Entah hujan itu pagi, entah hujan itu siang, entah hujan itu sore maupun malam. Pelangi kini tiada terlihat lagi, baik di tengah kota ku cari maupun di tepian sawah ku nanti. Padahal, sewaktu kecil, 15 tahun yg lalu. Hujan ringan pun menghadirkan pelangi yg begitu indahnya. Sampai-sampai sering terpesona dibuat olehnya. Sekarang, fenomena alam tersebut semakin asing, lebih aneh kita menormalisasi ketiadaan tersebut.
Mungkin inilah tanda bahwa, kehancuran dunia ini, tiadalah banyak orang sadari. Sebab, kehidupan dunia sangat menyibukkan diri. Hingga, tak sempat lagi memperhatikan ada perubahan signifikan yg terjadi di bumi pertiwi. Namun, selagi pekerjaan aman sentosa, apalah arti kehancuran dunia? Meski, ada saatnya kita menyadari bahwa dunia kini tlah berganti. Mungkin manusia lah yg nanti kan terusik oleh dunia yg berubah, akibat olah tangan manusia itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar