Langsung ke konten utama

Liburan Tapi Hati Berisik

 Lebaran tahun ini termasuk libur yang cukup panjang bagi kami. Kurleb 2 pekan kami mendapat kesempatan libur kerja. Waktu yang cukup untuk istirahat dari rutinitas yang luar biasa menguras tenaga, pikiran dan mental.


Liburan ini menjadi rutinitas, bukan lagi momentum. Sebab, liburan merupakan rangkaian waktu yang berulang, bukan lagi waktu yg tercipta karena diperjuangkan. Liburan seringkali kembali ke satu tempat yang sama, berulang. Ketika waktu libur tiba, biasanya kita berkumpul dengan keluarga besar. Keluarga yang jauh maupun dekat, berkumpul pada satu atap yang dulu punya cerita panjang kehidupan. Hal ini menjadikan liburan sebagai rutinitas yang silih berganti waktu dan orang, namun dengan tempat yang tak berubah.


Rutinitas liburan kali ini memunculkan pertanyaan, kemana hati ditata untuk meresapi liburan yang ada? Apakah tentang rumah? Atau tentang hidangan? Atau sekadar melepas rindu yang tak pernah sama lagi?


Ketika waktu menunjukkan usia tiadalah lagi muda, berkumpul adalah kekuatan kehidupan. Kejadian dan kesulitan yang dihadapi masing-masing anggota keluarga sudah lelah dan letih untuk diladeni. Diri dan jiwa mulai terkuras dan terkikis dalam menyelesaikan beragam perkara. Rambut yang telah memutih, kulit yang telah keriput, mata yang sudah sayu, dan ucapan yang seringkali serak. Berjalan juga sudah tidak secepat dulu, langkah pun lebih dulu cucu. Menyadari bahwa jiwa dan diri ini sudah letih dan menuju penghujung usia. Hingga dilihat dari manapun, kelelahan fisik dan mental itu merayap kemana-mana. Keluarga besarlah yang kemudian menjadikan motivasi untuk menjalani hidup yang tiada lagi sama, agar diri kembali kuat menjalani kehidupan. 


Ada banyak pandangan dalam menyikapi libur yang panjang. Utuh atau tidaknya anggota keluarga turut mempengaruhi bagaimana menyambut liburan itu sendiri. Orang yang mempunyai orang tua, dan menyenangi mereka berdua. Turut berbahagia pulang untuk bermanja ria. Namun, kesedihan pula tak terkira ketika salah satu atau keduanya tlah tiada. Begitu pula orang sedari awal tiada orang tua, apa masih bisa bermakna liburan yang begitu panjangnya? Yah, hati pun berisik karena keceriaan kumpul keluarga besar tapi hati tak punya tempat kembali. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rewrite = Rekonstruksi Pikiran

Hujan turun dekat rumah, merenung dengan pasrah, mengapa cara diri berpikir tidak berubah dan terarah. Saya coba yakinkan diri bahwa itu adalah ilusi, godaan setan untuk mengecilkan diri. Saya rasa-rasa lagi, itu bukan sekedar was-was maupun ilusi sesaat ketika melihat diri tidak begitu kritis terhadap segala situasi. Ketika terjadinya agresi AS+Israel Vs Iran, diri ini memilih diam, tidak memihak salah satu atau mencenderungkan diri ke salah satu. Ketika terjadinya bencana yang melanda wilayah Sumatera, diri ini juga tidak memberikan kritik ataupun analisis tajam terhadap kejadian tersebut. Sehingga, diri ini seperti apatis terhadap kejadian diluar kemampuan untuk membantu dan menanganinya. Termasuk melakukan analitis terstruktur terhadap beragam problematika yang melanda dalam maupun luar negeri.  Menulis merupakan cara bagi saya untuk memulai kembali dan menajamkan lagi cara berpikir dan apa yang kita pikir. Melalui apa yang kita pikirkan, kita membatasi bahasan dan tema-tema ya...

Kematian adalah Kehilangan yang Menyadarkan

 Kemarin malam, saat menunggu iqamah sholat isya, imam yang biasa pimpin sholat tiba-tiba maju ke shaf depan. Saya kira imam tersebut akan memberlangsungkan iqamah, namun justru mengumumkan sesuatu. Pengumuman bahwasanya tetangga kami, RW, meninggal dunia secara mendadak. Saya pun tertegun mendengar pengumuman tersebut, mendengar bahwa tetangga kami yang terlihat sehat, kemudian tiba-tiba sakit dan terjatuh. Sempat dibawa ke Rumah Sakit, Qadarullah, meninggal dunia. Saya pun menghela nafas, kenapa begitu cepatnya tetangga kami dipanggil Allah. Hal ini pun dirasakan oleh imam yang memimpin sholat, terisak tangis yang terdengar dalam lantunan ayat yg begitu berat terucap.  Hari ini, tetangga sekaligus keluarga kami di kuburkan. Karena tuntutan pekerjaan, saya hanya sempat takziah sebentar tanpa bisa ikut melakukan pemulasaraan jenazah maupun ikut mensholatkan. Namun, rasanya begitu berat, tetangga kami, yang biasa ikut sholat berjamaah, sekarang sudah tiada. Mungkin inilah yang ...

Memahami Bisnis Dengan Baik #2

 Kemarin malam saya mulai menulis tentang  Memahami Bisnis Dengan Baik  yang berujung pada kesimpulan bahwa "Bisnis tidak pernah lepas dari manusia serta cara pandangnya terhadap barang/jasa". Malam ini pernyataan saya tersebut terbukti dari seorang pebisnis yang bercerita tentang pengalaman bangun jatuhnya mengawali bisnis. Cerita pebisnis tersebut dapat Anda simak pada  Link ini  yang punya Kampoeng Timoer. Pebisnis tersebut yang juga dikenal dengan produknya "Crab" suatu cemilan yang berbahan baku kepiting. Awal Filsa berbisnis yaitu membuka warung "Ayam Kalasan". Warung khas Jawa yang menjual banyak makanan manis. Warung tersebut terletak dipinggir jalan raya, namun warung tersebut tidak bertahan lama hingga akhirnya tutup.  Singkat cerita, Filsa punya modal Rp. 100.000 hasil dari menggadai cincin pernikahan untuk membelikan kebutuhan-kebutuhan mendesak, seperti beras, susu, dan lainya. Modal tersebut dipikir dengan keras oleh Filsa agar dapat bertahan...