Langsung ke konten utama

Teguhkan Hati dalam Memilih

Setiap manusia yang hidup akan senantiasa dihadapkan pada banyak pilihan. Pilihan memang menentukan jalan tapi tidak memberi kepastian. Sesuatu yang kita pilih tidak asal-asalan, melainkan gambaran dari kapasitas diri kita.

Ketika kita diminta memilih antara makan nasi padang atau bikin nasi sop ditengah hujan yang mengguyur dari pagi hingga siang, maka ada proses kognisi yang menyertai. Seperti, dari pagi hingga siang ini hujan terus nieh, kondisi kayak gini lebih cocok bikin nasi sop deh karena efeknya dapat menghangatkan tubuh.

Pada urusan makan tersebut, kita melakukan pilihan yang menentukan. Pilihan yang memerlukan proses kognisi. Proses kognisi terjadi ketika mempertimbangkan antar pilihan, sedangkan yang membuat keputusan adalah keteguhan hati. Keteguhan hati untuk siap menerima segala konsekuensi atas pilihan yang kita ambil.

Konsekuensi yang harus diterima karena memilih nasi sop seperti keruwetan bahan dan waktu pembuatan yang cenderung lebih lama. Ketika kita siap dengan konsekuensi, disetiap itulah kita mengasah mental diri. Tidak setiap pilihan berjalan sesuai hati, karena itulah hati siap dengan segala kemungkinan terjadi.

Pertimbangan sebaik apapun tanpa keteguhan hati akan cenderung lemah ketika menerima konsekuensi. Ketika pilihan tidak sesuai ekspektasi, hati mulai sakit, membuka lobang untuk penyakit lain. Penyakit paling parah ialah ingkar atas nikmat yang juga berarti ingkar atas konsekuensi pilihan.

Teguhkan hati disetiap pilihan, meski sulit untuk mempertimbangkan dengan logika, timbanglah dengan rasa nyaman dan kelegaan ketika memilihnya. Jauhkan pilihan dari interfensi orang lain ketika pilihan tersebut berkonsekuensi hanya untuk diri sendiri. Sebaliknya, perhatikan dengan baik ujaran orang lain saat pilihan tersebut menyangkut banyak orang atau suatu komunitas tertentu. Pastikan, anggota komunitas juga turut siap dengan pilihan yang kita tentukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rewrite = Rekonstruksi Pikiran

Hujan turun dekat rumah, merenung dengan pasrah, mengapa cara diri berpikir tidak berubah dan terarah. Saya coba yakinkan diri bahwa itu adalah ilusi, godaan setan untuk mengecilkan diri. Saya rasa-rasa lagi, itu bukan sekedar was-was maupun ilusi sesaat ketika melihat diri tidak begitu kritis terhadap segala situasi. Ketika terjadinya agresi AS+Israel Vs Iran, diri ini memilih diam, tidak memihak salah satu atau mencenderungkan diri ke salah satu. Ketika terjadinya bencana yang melanda wilayah Sumatera, diri ini juga tidak memberikan kritik ataupun analisis tajam terhadap kejadian tersebut. Sehingga, diri ini seperti apatis terhadap kejadian diluar kemampuan untuk membantu dan menanganinya. Termasuk melakukan analitis terstruktur terhadap beragam problematika yang melanda dalam maupun luar negeri.  Menulis merupakan cara bagi saya untuk memulai kembali dan menajamkan lagi cara berpikir dan apa yang kita pikir. Melalui apa yang kita pikirkan, kita membatasi bahasan dan tema-tema ya...

Kematian adalah Kehilangan yang Menyadarkan

 Kemarin malam, saat menunggu iqamah sholat isya, imam yang biasa pimpin sholat tiba-tiba maju ke shaf depan. Saya kira imam tersebut akan memberlangsungkan iqamah, namun justru mengumumkan sesuatu. Pengumuman bahwasanya tetangga kami, RW, meninggal dunia secara mendadak. Saya pun tertegun mendengar pengumuman tersebut, mendengar bahwa tetangga kami yang terlihat sehat, kemudian tiba-tiba sakit dan terjatuh. Sempat dibawa ke Rumah Sakit, Qadarullah, meninggal dunia. Saya pun menghela nafas, kenapa begitu cepatnya tetangga kami dipanggil Allah. Hal ini pun dirasakan oleh imam yang memimpin sholat, terisak tangis yang terdengar dalam lantunan ayat yg begitu berat terucap.  Hari ini, tetangga sekaligus keluarga kami di kuburkan. Karena tuntutan pekerjaan, saya hanya sempat takziah sebentar tanpa bisa ikut melakukan pemulasaraan jenazah maupun ikut mensholatkan. Namun, rasanya begitu berat, tetangga kami, yang biasa ikut sholat berjamaah, sekarang sudah tiada. Mungkin inilah yang ...

Memahami Bisnis Dengan Baik #2

 Kemarin malam saya mulai menulis tentang  Memahami Bisnis Dengan Baik  yang berujung pada kesimpulan bahwa "Bisnis tidak pernah lepas dari manusia serta cara pandangnya terhadap barang/jasa". Malam ini pernyataan saya tersebut terbukti dari seorang pebisnis yang bercerita tentang pengalaman bangun jatuhnya mengawali bisnis. Cerita pebisnis tersebut dapat Anda simak pada  Link ini  yang punya Kampoeng Timoer. Pebisnis tersebut yang juga dikenal dengan produknya "Crab" suatu cemilan yang berbahan baku kepiting. Awal Filsa berbisnis yaitu membuka warung "Ayam Kalasan". Warung khas Jawa yang menjual banyak makanan manis. Warung tersebut terletak dipinggir jalan raya, namun warung tersebut tidak bertahan lama hingga akhirnya tutup.  Singkat cerita, Filsa punya modal Rp. 100.000 hasil dari menggadai cincin pernikahan untuk membelikan kebutuhan-kebutuhan mendesak, seperti beras, susu, dan lainya. Modal tersebut dipikir dengan keras oleh Filsa agar dapat bertahan...